« September 2007 | Main | November 2007 »

October 26, 2007

Miss him

Siang ini di kantor pusat ada acara Halal bil halal, biasalah kalo abis lebaran, pada maaf-maafan gitu...tapi intinya mah makan-makan lagi...hehe. Tapi siang ini aku malas (ga tau kenapa) untuk ke kantor pusat. Sebenarnya udah lama banget ga kesana..mungkin karena Momon udah ga ada di sana...hm..apa kabar ya anak itu? Jadi kangen ma dia...
Momon ataw Riza... teman seperjuanganku..sekarang lagi belajar bahasa Perancis di CCF Jakarta. Bentar lagi dia mau ngambil master di Perancis. Sedikit lost contact ama dia...kecuali kalo udah diatas tgl 25 dia pasti sms-in aku nanyain kapan gajian...(hehe..emang aku bagian keuangan, Mon?).
Kalo dulu aku ke kantor pusat, pasti mampir ke ruangannya di Lab. biomolrekgen. Dah gitu disediain kopi, pulangnya mampir makan sop buah, trus ngantarin aku pulang so aku ga perlu naek angkot. Sekarang kalo ke kantor pusat, ga ada tempat nongkrong lagi. Ruangannya terkunci, paling nggak 1-2 mahasiswa ada disana.
Anak ini jago bikin cerpen...(aku punya limited edition cerpennya yang dibukukan). Sampai dia bikin cerpen buatku karena terinspirasi kebiasaanku ngumpulin receh (Mon, dah penuh lho). Cerpennya bisa dibaca di sini...
Dan siang ini...kembali mengenang dia..hmphhfff

                            

October 03, 2007

Orang tua-ku

Sampai saat ini aku mempunyai banyak orang tua. Karena hidupku yang nomaden, aku punya orang tua dimana-mana.

Yang pertama adalah orang tua biologis-ku. Papa dan Mamaku adalah orang tua yang melahirkan, membesarkan, dan mengasuhku sampai saat ini. Walaupun sekarang aku tinggal jauh dari mereka dan sudah bisa hidup mandiri, tetap saja mereka mengasuhku dengan cara mereka sendiri.

Orang tua-ku yang kedua adalah bapak dan ibu pengasuh asrama sewaktu aku SMA. Aku sekolah di sebuah sekolah andalan, dimana bibit unggul dari tiap kabupaten di Sulawesi Selatan dikumpulkan. Bapak asramanya namanya Pak Razak, dan ibu asramanya aku lupa namanya, tapi kami penggil ibu dokter. Mereka berdua sangat galak, jadi aku tidak begitu akrab dengan mereka. Lagipula, di asrama itu kami lebih dekat kepada guru-guru kami yang tinggalnya dekat dengan lokasi asrama kami.

Orang tua-ku yang ketiga adalah Bapak dan Ibu Koen Soeryono. Mereka adalah bapak dan ibu kost-ku sewaktu kuliah di Jogja. Aku menyewa satu kamar di dalam rumah mereka. Kebetulan kakak sepupuku sudah pernah nge-kost di situ, jadi keluargaku dah kenal dengan mereka. Bapak dan Ibu Koen sangat memegang adat Jawa. Walaupun begitu, mereka juga menghargai anak-anak kostnya. Kalau ada acara di rumah itu, Ibu selalu menyisihkan makanan buat anak-anak kostnya. Kalau Ibu pergi kemana-mana, tidak lupa oleh-oleh buat anak kost. Bapak dan Ibu sangat menghargai privacy anak kost, tapi mereka juga sekaligus menganggap kami sebagai anak mereka. Bahkan ketika aku sudah pindah ke Bogor, mereka masih tetap mengingatku. Ibu Koen sudah berpulang ke rumah Bapa di surga, karena sakit kanker tulang yang dideritanya. Sementara Bapak Koen saat ini sementara dirawat di rumah sakit karena kakinya diamputasi, akibat diabetes. Aku berharap liburan lebaran ini aku bisa ke Jogja untuk menjenguk beliau.

Orang tua-ku yang keempat adalah Bapak Maman dan Bu Maya. Mereka adalah penjaga kost yang aku tempati sekarang. Kedua orang ini cukup unik. Pak Maman yang notabene adalah orang Sunda dalam bertutur kata cukup halus, sementara Bu Maya yang orang Jawa punya temperamen yang meledak-ledak. Tidak jarang dia bersuara keras, seperti orang yang lagi marah. Walaupun begitu aku belum pernah dimarahi. Mungkin karena aku tidak pernah telat bayar uang kost, bahkan selalu bayar sebelum waktunya. Kalau aku pergi dinas keluar kota, aku tidak pernah lupa bawa bingkisan buatnya. Kalau aku meninggalkan rumah kost, aku selalu pamit ke Bu Maya... padahal yang lain nggak pernah begitu. Suatu waktu Bu Maya bilang ke aku, kalau aku satu-satunya anak kost yang selalu pamit. Aku bilang, karena di sini Bapak dan Ibu adalah orang tuaku jadi aku harus pamit kalau meninggalkan rumah.

Hormatilah kedua orang tua-mu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan kepadamu”. Aku selalu mengingat perintah Tuhan yang kelima itu. Walaupun terkadang aku sebal atau marah ke orang tuaku karena tidak bisa mengerti jalan pikiran mereka, mereka tetap orang tua yang harus aku hormati karena mereka adalah wakil Tuhan untukku di dunia ini.

Your name in Japanese

Aku menemukan hal berikut ini di Bulletin Friendster udah lama. Trus aku save di notebook-ku. Ga tau juga benar atau nggak. Tapi lucu juga buat iseng-iseng

Take each letter of your name and substitute it with the japanese sound to the right of the letter. Names might be kinda long.

A- ka * B- zu * C- mi * D- te * E- ku * F- lu * G- ji * H- ri * I- ki * J- zu * K- me * L- ta * M- rin * N- to * O-mo * P- no * Q- ke * R- shi * S- ari * T- chi * U- do * V- ru * W-mei * X- na * Y- fu * Z- zi

Kalau namaku DESTY – Tekuarichfu. Bagaimana dengan namamu?

October 01, 2007

Don't marry be happy

Weekend kemarin aku nonton Oprah show. Di acara itu diulas tentang film “I Think I Love My Wife” yang diperankan oleh Chris Rock, seorang komedian sekaligus sutradara dari film Madagascar. Sepertinya ceritanya lucu, membuatku penasaran pengen nonton. Jadinya sore itu aku mencari DVD-nya.

Dan memang ceritanya benar-benar lucu. Konfliknya sederhana (dan mungkin saja banyak yang mengalaminya). Richard seorang bankir dengan keluarga yang kelihatannya bahagia. Istrinya, Brenda, adalah seorang guru. Mereka mempunyai anak-anak yang lucu, Brian dan Kelly. Singkat cerita, Richard dan Brenda sudah lama tidak berhubungan sex, karena Brenda selalu menolak Richard dengan berbagai alasan. Hingga suatu ketika, Richard bertemu dengan teman lamanya, Nikki, yang mulai memasuki hidupnya dan dan tanpa sadar membuat Richard melupakan tanggung jawab sebagai seorang karyawan dan seorang suami. Untungnya, Richard tidak benar-benar terjatuh, karena dia tersadar pada saat yang tepat. Seperti film romantic comedy lainnya, film ini juga berakhir bahagia dengan bersatunya kembali Brenda dan Richard.

Sepanjang film itu, ada beberapa adegan dimana Nikki selalu menanyakan kepada Richard “are you happy being a married man?”. Pertanyaan itu dijawab oleh Richard dengan berkata “My marriage is almost 7 years, why should I not be happy?

Being a married man or woman...aku sendiri belum pernah mengalaminya (tapi aku berencana untuk itu). Tapi ada begitu banyak contoh yang aku lihat, dengar, dan baca tentang hidup berkeluarga. Tidak jarang teman-temanku yang sudah berkeluarga bercerita tentang mertuanya yang menyebalkan, banyaknya kebutuhan hidup, anaknya susah untuk belajar, dan masih banyak lagi ga ada habis-habisnya.

Beberapa orang kemudian memilih untuk tetap melajang karena berbagai macam alasan. Beberapa mungkin diantaranya karena tidak mau mengalami kejadian-kejadian di atas. Sebut aja itu sindrom “don’t marry be happy”. Tentu saja penyebab sindrom ini tidak termasuk di dalamnya belum menemukan pasangan hidup alias jomblo. Kecuali jika dia memang berniat tidak mencari pasangan hidup karena tidak mau menikah.

Tapi seperti kata seorang teman pada tulisan di blognya, hal ini berpulang pada keputusan setiap orang. Aku sendiri akan memilih “get married, be happier” hehehe....

My Photo
Powered by Friendster Blogs

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31            

rame-rame

  • go green indonesia!
  • Cara Membuat Blog
  • Page copy protected against web site content infringement by Copyscape