Sampai saat ini aku mempunyai banyak orang tua. Karena hidupku yang nomaden, aku punya orang tua dimana-mana.
Yang pertama adalah orang tua biologis-ku. Papa dan Mamaku adalah orang tua yang melahirkan, membesarkan, dan mengasuhku sampai saat ini. Walaupun sekarang aku tinggal jauh dari mereka dan sudah bisa hidup mandiri, tetap saja mereka mengasuhku dengan cara mereka sendiri.
Orang tua-ku yang kedua adalah bapak dan ibu pengasuh asrama sewaktu aku SMA. Aku sekolah di sebuah sekolah andalan, dimana bibit unggul dari tiap kabupaten di Sulawesi Selatan dikumpulkan. Bapak asramanya namanya Pak Razak, dan ibu asramanya aku lupa namanya, tapi kami penggil ibu dokter. Mereka berdua sangat galak, jadi aku tidak begitu akrab dengan mereka. Lagipula, di asrama itu kami lebih dekat kepada guru-guru kami yang tinggalnya dekat dengan lokasi asrama kami.
Orang tua-ku yang ketiga adalah Bapak dan Ibu Koen Soeryono. Mereka adalah bapak dan ibu kost-ku sewaktu kuliah di Jogja. Aku menyewa satu kamar di dalam rumah mereka. Kebetulan kakak sepupuku sudah pernah nge-kost di situ, jadi keluargaku dah kenal dengan mereka. Bapak dan Ibu Koen sangat memegang adat Jawa. Walaupun begitu, mereka juga menghargai anak-anak kostnya. Kalau ada acara di rumah itu, Ibu selalu menyisihkan makanan buat anak-anak kostnya. Kalau Ibu pergi kemana-mana, tidak lupa oleh-oleh buat anak kost. Bapak dan Ibu sangat menghargai privacy anak kost, tapi mereka juga sekaligus menganggap kami sebagai anak mereka. Bahkan ketika aku sudah pindah ke Bogor, mereka masih tetap mengingatku. Ibu Koen sudah berpulang ke rumah Bapa di surga, karena sakit kanker tulang yang dideritanya. Sementara Bapak Koen saat ini sementara dirawat di rumah sakit karena kakinya diamputasi, akibat diabetes. Aku berharap liburan lebaran ini aku bisa ke Jogja untuk menjenguk beliau.
Orang tua-ku yang keempat adalah Bapak Maman dan Bu Maya. Mereka adalah penjaga kost yang aku tempati sekarang. Kedua orang ini cukup unik. Pak Maman yang notabene adalah orang Sunda dalam bertutur kata cukup halus, sementara Bu Maya yang orang Jawa punya temperamen yang meledak-ledak. Tidak jarang dia bersuara keras, seperti orang yang lagi marah. Walaupun begitu aku belum pernah dimarahi. Mungkin karena aku tidak pernah telat bayar uang kost, bahkan selalu bayar sebelum waktunya. Kalau aku pergi dinas keluar kota, aku tidak pernah lupa bawa bingkisan buatnya. Kalau aku meninggalkan rumah kost, aku selalu pamit ke Bu Maya... padahal yang lain nggak pernah begitu. Suatu waktu Bu Maya bilang ke aku, kalau aku satu-satunya anak kost yang selalu pamit. Aku bilang, karena di sini Bapak dan Ibu adalah orang tuaku jadi aku harus pamit kalau meninggalkan rumah.
“Hormatilah kedua orang tua-mu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan kepadamu”. Aku selalu mengingat perintah Tuhan yang kelima itu. Walaupun terkadang aku sebal atau marah ke orang tuaku karena tidak bisa mengerti jalan pikiran mereka, mereka tetap orang tua yang harus aku hormati karena mereka adalah wakil Tuhan untukku di dunia ini.
Recent Comments